Sabtu, 21 Agustus 2010

Es Puter Bang Udi

Sejak sekolah SMA dulu, kata orang es puter Bang Udi itu enak. Dan aku baru bisa nyobain ketika aku sudah kuliah di Bogor. Pas liburan mama ngajak untuk nyicipin es puter Bang Udi.
Ternyata.... hmmm uenak tenan, gurih, mak nyusss...
Isinya pake kacang merah sama tape singkong (peuyeum kalo kata orang sunda), berhubung aku ga begitu suka tape, aku pake kacang merah aja.
Harganya murah lho, cuma Rp 6000,00 doang.
Kalo ke Palembang, aku mampir ke warung Es Puter Bang Udi yang ada di sebelah toko Maraton dan IP (Internasional Plaza) karena akses kesana lebih gampang daripada Es Puter Bang Udi di tempat lain.



Jumat, 20 Agustus 2010

Dancing Fountain Grand Indonesia


Air mancur joged???
Jadi Penasaran... So aku cari tahu tentang air mancur joged atau dancing fountain itu, ternyata di Grand Indonesia ada pertunjukan dancing fountain. Lumayan, gratisan. Perpaduan antara alunan lagu, gerakan air, dan tata lampunya pas banget... keren... ga rugi nontonnya. Dan setiap kali ke Grand Indonesia aku nyempetin nonton pertunjukkannya.

Kata orang dancing fountain di Grand Indonesia dan Monas termasuk dalam 9 air mancur joged terindah didunia, dan ada yang bilang kalo air mancur joged yang ada di Singapura kalah dengan yang di Grand Indonesia dan yang bisa mengalahkan keindahannya adalah air mancur joged yang ada di Dubai.

Tapi aku sendiri belum pernah liat air mancur yang di Monas. Ntar kapan-kapan moga aja bisa liatnya. Pertunjukkan air mancur joged yang ada di lantai 3A West Mall Grand Indonesia berlangsung kira-kira 15 menitan, dengan 3 atau 4 lagu (agak lupa..). Pokoke nggak nyesel deh nontonnya.




Sabtu, 14 Agustus 2010

Tembok Besar China

Tembok Raksasa Cina atau Tembok Besar Cina (Tionghoa Tradisional: 長城; Tionghoa Sederhana: 长城; pinyin: Chángchéng), juga dikenal di Cina dengan nama Tembok Raksasa Sepanjang 10.000 Li¹ (萬里長城; 万里长城; Wànlĭ Chángchéng) merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia, terletak di Republik Rakyat Cina.


Panjangnya adalah 6.400 kilometer (dari kawasan Sanhai Pass di timur hingga Lop Nur di sebelah barat) dan tingginya 8 meter dengan tujuan untuk mencegah serbuan bangsa Mongoldari Utara pada masa itu. Lebar bagian atasnya 5 m, sedangkan lebar bagian bawahnya 8 m. Setiap 180-270 m dibuat semacam menara pengintai. Tinggi menara pengintai tersebut 11-12 m.

Untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang. Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya. Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming. Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming tadi. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Tiongkok.

Tembok Besar yang kita sebut sekarang kebanyakan adalah tembok besar yang dibangun pada Dinasti Ming yang berkuasa antara tahun 1368 dan 1644. Ujung baratnya berpangkal dari Benteng Jiayu di Provinsi Gansu Tiongkok Barat dan ujung timurnya terletak di pinggir Sungai Yalu Provinsi Liaoning Tiongkok Timur Laut setelah melewati 9 provinsi, kota dan daerah otonom sepanjang 7300 kilometer, atau sama dengan 14 ribu li Tiongkok. Dengan demikian, Tembok Besar itu disebut sebagai "tembok panjang 10 ribu li" di Tiongkok.

Sebagai kubu pertahanan, Tembok Besar dibangun dengan mengikuti jalannya puncak pegunungan. Topografi yang dilewatinya sangat rumit, antara lain, gurung pasir, padang rumput dan rawa. Untuk menyesuaikan diri dengan berbagai topografi, pelaksana pembangunan Tembok Besar menerapkan struktur yang luar biasa dan berbeda-beda. Kesemua ini menunjukkan kecerdasan nenek moyang bangsa Tionghoa.

Tembok Besar yang berliku-liku mamanjang menyusuri puncak pegunungan hampir mustahil ditaklukkan oleh musuh pada zaman kuno karena gunung dan lereng yang menjadi dasar tembok itu terlalu terjal untuk didaki.

Di sektor penting Tembok Besar, misalnya lintasan strategis, celah gunung dan perbatasan gunung dengan laut biasanya dibangun loteng gerbang besar. Loteng-loteng gerbang itu tidak hanya kelihatan megah, tapi juga mencerminkan seni arsitektur cemerlang zaman kuno Tiongkok. Sekarang sebagian loteng gerbang itu telah berubah menjadi obyek wisata, misalnya Loteng Gerbang Shanhaiguan di ujung timur Tembok Besar yang dijuluki sebagai loteng gerbang nomor satu Tiongkok dan Loteng Gerbang Juyongguan sektor Badaling Tembok Besar di sekitar Beijing.



Fungsi Tembok Besar sebagai kubu pertahanan militer sekarang sudah tidak ada lagi, namun keindahan arsitekturnya tetap sangat mengagumkan.

Keindahan Tembok Besar tercermin pada kemegahan, kekuatan dan kebesarannya. Melepas pandang dari tempat jauh ke Tembok Besar, tembok besar tinggi yang memanjang selama ribuan kilometer itu tampak serupa naga mahabesar yang menggeliang-geliut menyusuri pegunungan; jika dilihat dari jarak dekat, maka tembok itu penuh dengan daya tarik seni dengan arsitekturnya yang aneka ragam.

Tembok Besar adalah hasil jerih payah yang dibasahi keringat dan darah serta diresapi kecerdasan rakyat Tiongkok pada zaman kuno. Betapa beratnya proyek pembangunan Tembok Besar pada zaman kuno yang masih rendah tenaga produktif memang sulit dibayangkan.

Sumber : www.new7wonders.com, www.maitreya.or.id/forums, id.wikipedia.org, indonesian.cri.cn